Iklan
Budaya Daerah Hukum Internasional Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik Teknologi
Berita Terbaru
Indonesia dan Krisis Thailand-Kamboja | Jaguar Melayu

Indonesia dan Krisis Thailand-Kamboja

Indonesia dan Krisis Thailand-Kamboja

Peta Konflik Thailand versus Cambodia

JaguarMelayuNews. Riau-Pekanbaru. Konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja, yang kerap mencuat akibat sengketa wilayah kuil Preah Vihear, bukan sekadar persoalan bilateral. Ini adalah cerminan dari kerentanan kawasan Asia Tenggara terhadap potensi konflik historis yang belum tuntas. Sebagai sesama anggota ASEAN, keduanya seharusnya mengedepankan dialog, bukan senjata. Dan di sinilah posisi Indonesia menjadi sangat penting.

Sebagai negara terbesar dan paling berpengaruh di kawasan, Indonesia memiliki tanggung jawab moral dan strategis untuk mendorong stabilitas regional. Sejarah telah menunjukkan bahwa peran Indonesia sebagai juru damai bukanlah hal baru. Pada 2011, misalnya, Indonesia pernah menjadi mediator dalam konflik militer yang terjadi di kawasan perbatasan kedua negara, dengan mengusulkan pengiriman tim pemantau dan fasilitasi perundingan damai.

Namun, situasi saat ini menuntut lebih dari sekadar mediasi teknis. Indonesia perlu kembali menegaskan kepemimpinannya dalam ASEAN—bukan dalam bentuk dominasi, melainkan kepemimpinan kolektif berbasis nilai-nilai perdamaian dan penyelesaian damai sengketa. Krisis ini dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk menghidupkan kembali semangat ASEAN Way yang sering dikritik pasif, agar lebih proaktif namun tetap mengedepankan prinsip non-intervensi dan konsensus.

Selain itu, Indonesia juga harus memperkuat kerja sama pertahanan regional berbasis kepercayaan, seperti dialog militer bilateral atau trilateral. Isu perbatasan di Asia Tenggara harus disikapi dengan pendekatan yang tidak mengandalkan kekuatan militer, melainkan diplomasi, pembangunan ekonomi lintas batas, serta pendidikan perdamaian di wilayah-wilayah sensitif.

Krisis Thailand-Kamboja juga menjadi pengingat bahwa batas-batas politik yang diwariskan kolonialisme masih menyisakan luka. Penyelesaiannya tidak cukup hanya dengan peta dan arbitrase internasional, tetapi juga dengan membangun rasa saling percaya dan visi bersama sebagai komunitas ASEAN. Indonesia, dengan modal politik luar negeri bebas aktif dan pengakuan sebagai kekuatan diplomasi kawasan, punya peluang besar untuk menjadi problem solver yang menjembatani perbedaan. Ini bukan hanya soal membantu dua negara bertetangga, tapi soal membuktikan bahwa Asia Tenggara punya mekanisme sendiri untuk menjaga damai, tanpa selalu bergantung pada kekuatan eksternal. Krisis adalah ujian. Dan seperti pepatah lama, dalam setiap krisis selalu ada kesempatan. Kesempatan bagi Indonesia untuk memimpin, mendamaikan, dan menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal ukuran, tapi soal keberanian untuk bertindak benar pada saat yang sulit.